Menu

Banyaknya Pengungsi Perempuan Rohingnya yang Menikah di bawah Umur

Masyarakat dunia sedang dihadapkan oleh polemik Rohingnya. Dan juga pengungsinya di sana. Para pengungsi perempuan di sana pasalnya menghadapi resiko menjadi korban penyelundupan manusia. Pengungsi-pengungsi perempuan Rohingnya yang sedang mengungsi dari kekerasan di Myanmar banyak yang menikah di bawah umur. Data ini terungkap dari survey PBB. Tidak hanya itu, hal yang lebih memilukan lagi adalah para pengungsi anak perempuan itu juga menjadi korban dari kekerasan dalam rumah tangga.

Pengungsi Perempuan Rohingya Menjadi Korban Kekerasan

Kekerasan marak terjadi di negara bagian Rakhine, Myanmar Barat. Kekerasan sudah marak terjadi cukup lama. Dan pada tahun 2012 yang lalu, sekitar kurang lebih 168.000 warga Muslim di Rohingya, termasuk anak-anak perempuan, melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh. Tidak hanya melarikan diri dan menyelamatkan diri mereka ke Bangladesh, namun juga ke sejumlah negara Asia lainnya.

UNHCR, Badan Pengungsi PBB, melakukan survey yang dilakukan di Rohingya. Dan mereka mendapati ada sekitar 80% anak perempuan di sana yang menikah di bawah usia 18 tahun. Serta rata-rata melahirkan anak pertama mereka pada umur 18 tahun. Tidak hanya itu, 1 dari 3 anak perempuan juga mengalami kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Juru bicara UNHCR Asia, Vivian Tan, memberikan penjelasannya kepada kantor berita Reuters. “Kami pada umumnya memberikan pengarahan kepada mereka soal pilihan-pilihan yang ada. Dan jika mereka setuju, akan dirujuk langsung ke mitra kami atau pun kepusat penampungan untuk kaum perempuan yang rentan,” ungkapnya.

Laporan dari UNHCR 2016 soal Pergerakan Campuran di Asia Tenggara mempunya dasae pada survey tahun yang lalu atas sekitar 85 pengungsi perempuan dewasa dan juga anak perempuan Rohingya di Indonesia, India dan Malaysia.

Dari total survey itu, hanya sekitar 7% yang mempunyai pendapatan sendiri walaupun 2/3 ingin mempunyai pendapatan. Diperkirakan juga, ada kurang lebih 8.000 perempuan yang berusia dari 14 tahun sampai 34 tahun di ketiga negara itu ketika diadakan survey. Para pegiat menjadi khawatir akan terjadi peningkatan para pengungsi perempuan baik dewasa ataupun anak-anak yang masih sangat rentan atas kasus penyelundupan manusia, pernikahan di bawah umur, dan eksploitasi seksual.  

Nasib Warga Muslim di Rohingya

Yang sampai saat ini masih menjadi keprihatinan dunia internasional adalah nasib dari warga muslim di Rohingya. Dalam beberapa bulan belakangan ini dunia internasional membantu mereka. Hal ini dikarenakan aparat keamanan Myanmar dituduh melakukan pemerkosaan dan pembunuhan massal sebagai upaya menghadapi kelompok militan Rohingya. Tentu saja dunia internasional mengecam aksi itu dan juga pemerintah Myanmar yang sudah dianggap menjatuhkan hukuman secara merata serta bukan hanya pada kelompok yang diduga kuat menyerang beberapa pos polisi pada akhir tahun lalu. Menanggapi hal itu, Militer Burma membantah tuduhan www.mgmcash88.com itu. Hal ini sangat memprihatinkan karena warga Muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara Myanmar karena dianggap minoritas sebab mayoritas penduduk Myanmar beragama Buddha.

Hal memprihatinkan ini ditanggapi oleh Koffi Anan, komisi pimpinan mantan sekjen PBB, yang pada bulan Maret lalu sempat meminta Myanmar untuk mengakui etnik Rohingya sebagai warga negaranya. Ia juga meminta dengan keras agar mereka mengakhiri kekerasa yang sudah dialami kelompok minoritas Rohingnya. Langkah transparan harus ditempuh guna memberikan kewarganegaraan pada kelompok Rohingya yang sudah tinggal di Negara Bagian Rakhine dari generasi ke generasi. Namu nampaknya sampai saat ini mereka belum mengakui status kewarganegaraan Rohingya sebagai warga negara Myanmar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *