PBNU Ungkapkan bahwa Ulama Tak Perlu dibela

Beberapa hari yang lalu masyarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan rencana para alumni aksi 212 yang akan mengadakan demonstrasi atau ‘aksi’ kembali bertempat di Madjid Istiqlal. Aksi yang bertajuk Aksi 96 Bela Ulama itu mengundang reaksi berbagai pihak tidak hanya netizen yang pro dan kontra namun juga dari pihak NU (Nahdlatul Ulama).

Pengurus Besar NU (Nahdlatul Ulama) atau PBNU menyatakan bahwa ulama tak perlu dibela karena saat ini tidak ada kriminalisasi kepada mereka.

Tak Ada Kriminalisasi Terhadap Ulama Indonesia

KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU, pihaknya saat ini mempertanyakan ulama mana yan sedang dibela sekarang ini. Ketika ia ditanya soal Rizieq Shihab yang merupakan pentolan dari FPI itu, ia mengatakan tidak ada ulama yang perlu dibela. “Tidak ada kriminalisasi ulama maka tidak ada ulama yang perlu dibela. Ulama itu NU dan Muhammadiyah, adakah ulama NU dan Muhammadiyah yang dibela?” ungkap Said seusai peluncuran buku Miqat Kebinekaan yang bertempat di Gedung PBNU Jakarta pada Jumat (9/6) minggu lalu.

Ia mengatakan bahwa ulama adalah bentuk jamak dari alim dalam bahasa Arab. Jadi ulama itu kelompok. Jadi apabila mau membela ulama dewa poker maka mereka harusnya membela sebuah kelompok seperti NU dan Muhammadiyah sehingga ulama sejatinya tidak perlu dibela.

Diketahui sebelumnya bahwa alumni Presidium Alumni 212 menggelar aksi Bela Ulama 96 pada hari Jumat (9/6) di kawasan masjid Istiqlal. Massa juga saat itu masih berada di sana untuk beribadah shalat taraweh.

Dalam aksi itu, para massa mendesak pemerintah agar menghentikan kriminalisasi terhadap ulama. Sejumlah kasus yang mereka usung saat itu adalah kasus Rizieq Shihab terkait dugaan kasus pornografi. Kasus lainnya adalah kasus Al Khaththatan yang mana dituding makar. Rizieq sendiri saat ini maaih berada di Arab Saudu dan sampai saat ini tidak memenuhi panggilan dari pihak kepolisian.

Tanggapan Mentri Luar Negeri

Kementrian Luar Negeri sendiri menanggapi hal ini. Pihak Kementrian Luar Negeri RI menyebutkan bahwa Arab Saudi tidak akan memberikan suaka politik begitu saja kepada imam besar Front Pembela Islam itu. Rizieq Shihab saat ini diketahui masih berada di negara kaya minyak itu dan saat ini juga masih menjadi buron polisi karena kasusnya yakni dugaan kasus pornografi.

Armanatha Natsir, juru bicara Kementrian Luar Negeri mengatakan bahwa setiap negara memiliki kriteria masing-masing dalam memberikan suaka pada warga negara asing. Ia menambahkan bahwa dalam prosea tersebut pastinya memerlukan waktu yang panjang. Tidak hanya itu, proses penilaian juga panjang.

“Setiap negara memiliki langkah dan juga mekanismenya masing-masing. Apakah suaka tersebut dalam bentuk politik, ekonomi, sosial atau apa, itu ada aturan dan juga prosesnya masing-masing. Dan tentunya prosesnya tidak singkat, lama,” imbuhnya.

Saat ini diketahui bahwa Imam besar FPI atau pentolan dari FPI, Habib Rizieq Shihab belum juga mau pulang ke tanah air dikarenakan ia masih menetap di Arab Saudi. Rizieq sendiri melalui pengacaranya mengatakan bahwa kasus dugaan pornografi yang menyeret dirinta dengan seorang perempuan bernama Firzha itu adalah fitnah belaka. Ditambah lagi dengan adanya sederetan kasus lainnya yang tiba-tiba menyeret dirinya beberapa waktu belakangan ini. Ia dan pihaknya menganggap bahwa ini hanyalah kasus yang mana mengalihkan isu politik yang sedang berkembang di Indonesia.

Rizieq yang apabila masih enggan memenuhi panggilan polisi pasalnya akan dijemput paksa oleh polisi. Namub hal itu tak lantas menyurutkan niatnya untuk tinggal di Arab lebih lama.

Leave a Reply