Gubernur DKI Inginkan Ada Nama ‘Badja’ di Simpang Susun Semanggi

Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat, menghendaki simpang susun yang ada di kawasan Semanggi dinamakan Simpang Badja Semanggi. Badja sendiri adalah sebuah akronim ketika Ahok (Basuki) dan Djarot maju bersaing dalam Pilkada DKI 2017 pada bulan Februari lalu.

Tak Mau Nama Badja dikaitkan dengan Basuki Tjahaja Purnama

Djarot yang ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan pada Selasa (11/7) lalu mengatakan sambil tertawa, “Aku maunya Simpang Badja Semanggi.” Namun kendati demikian, mantan walikota Blitar itu tidak mau penamaan simpang Semanggi itu dikaitkan dengan Gubernur DKI Jakarta sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Djarot pun pasalnya tidak mempermasalahkan soal ejaan yang akan dipergunakan di nama ‘Badja’ sesuai dengan ejaan lama atau ‘Baja’ sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Usulan mengapa nama dari simpang Semanggi itu ‘Baja’ karena konstruksi infrastrukturnya adalah dari baja. Ditambah lagi, terkait dengan penamaan simpang susun itu, Djarot menyatakan bahwa hal itu cukup ditetapkan lewat peraturan gubernur.

Simpang susun ini sesuai rencana bakal diresmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 17 Agustus mendatang. Akan tetapi simpang susun sudah bisa dilewati oleh para pengguna dua minggu sebelum peresmian. “Kan perlu diuji coba dulu supaya pengguna kendaraan nggak bingung,” ungkap Djarot.

Proyek pembangunan jalan laying yang terletak di kawasan Semanggi ini mulai dilakukan pada tanggal 8 April 2016 lalu. dan setelah rampung, jalan laying ini akan diresmikan pada ulang tahun Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2017 mendatang.

Konstruksi Simpang Susun Semanggi

Proyek pembangunan simpang susun itu memiliki panjang kurang lebih 796 meter di ramp 1 dan juga 826 meter untuk ramp 2. Sementara itu, untuk lebar jalannya mencapai 8 meter dengan 2 jalur. Secara konstruksi, proyek ini dibagi dalam 4 bentang jalan layang. Jalan-jalan layang tersebut di antaranya: bentang Plaza Semanggi, bentang Polda Metro Jaya, bentang Hotel Sultan dan yang terakhir bentang Wisma Mulia atau BRI.

Simpang susun ini akan menghubungkan kendaraan yang datang dari Grogol ke Senayan dan juga kendaraan yang datang dari arah Sudirman ke Cawang. Karena jalan layang ini bukan lah jalan tol, maka jalan ini bisa juga dilewati oleh pengendara sepeda motor. proyek yang menghabiskan dana sebesar Rp. 345,067 milyar ini digarap oleh Badan Usaha Milik Negara, Wasita Karya.

Selain proyek simpang susun Semanggi, ada juga proyek lainnya yang digarap oleh pemerintah DKI Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta sendiri menargetkan jalur Transjakarta Koridor XIII Rute Ciledug ke Tandean akan mulai beroperasi juga pada tanggal 17 Agustus 2017. Tetapi pengoperasian jalur Transjakarta dewa poker yang mana melewati jalan layang sepanjang 9,3 kilometer tersebut belum beroperasi maksimal di awal.

Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat, menyatakan bahwa pada awal pengoperasiannya, jalur tersebut baru akan beroperasi 3 halte saja. “Daripada menunggu 12 halte, tapi lama. Jadi kami akan beroperasi dengan halte yang sudah ada saja dulu. Minimal koridor XIII sudah bisa difungsikan pada tanggal 17 Agustus mendatang,” ungkap Djarot pada Senin (10/7) lalu ditemu di Balai Kota DKI Jakarta. Tiga halte yang rencananya bakal dibuka pada 17 Agustus mendatang adalah Halte Adam Malik (Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan), Halte Tendean (di Jalan Pierre Tandean, Jakarta Selatan), dan Halte Tirtayasa (Jalan Walter Monginsidi, Selong, Jakarta Selatan).

Leave a Reply