Halimah Yacob, Perempuan Muslim Pertama Pimpin Singapura

Membicarakan Singapura, pasti tak lepas dari penampilan negara mungil yang luar biasa maju dan berkembang ini. Memiliki luas hanya sedikit lebih sempit dari Jakarta, Singapura sukses menjadi pusat keuangan terdepan ketiga di dunia. Lebih muda daripada Indonesia yakni baru mendapat kemerdekaan di tahun 1964, Singapura menjelma menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Bumi pada 2010.

 

Karena prestasinya itu, para Presiden dan Perdana Menteri Singapura selalu menuai berbagai pujian. Namun kali ini kabar membanggakan muncul dari Singapura di mana mereka akan memiliki Presiden baru yang berbeda bernama Halimah Yacob. Yap, Halimah akan menjadi Presiden perempuan dewa poker sekaligus pemimpin beragama Islam pertama di Singapura.

 

Resmi Pimpin Singapura Tanpa Pemilu

 

Kepastian bahwa perempuan berusia 63 tahun ini jadi Presiden Kedelapan Singapura ditetapkan oleh Returning Officer, Ng Wai Choong pada Rabu (13/9) siang ini. Menggantikan Tony Tan Keng Yam, perempuan berhijab yang pernah menjadi Ketua Parlemen Singapura ini akan memimpin selama enam tahun lamanya hingga 2023 mendatang.

 

Setelah ditetapkan secara resmi sebagai Presiden Singapura, Halimah akan dilantik di Istana Kepresidenan pada Kamis (14/9) petang. Yang membuat banyak orang takjub pada terpilihnya Halimah adalah karena perempuan lulusan Fakultas Hukum Universitas Singapura ini adalah satu-satunya kandidat dari total lima orang yang memenuhi syarat dengan menerima Sertifikat Kelayakan dari Departemen Pemilu Singapura.

 

Dengan syarat mutlak itu, maka penduduk Singapura tak perlu menggelar pemungutan suara pada 23 September 2017. Sekedar informasi, untuk periode saat ini, Pilpres Singapura memang diperuntukkan khusus bagi komunitas Melayu. Kenapa begitu? Karena sesuai Konstitusi, bahwa Pilpres Singapura bisa ditujukan hanya untuk satu komunitas saja jika tak satu orang pun dari anggota komunitas itu menjabat sebagai Presiden dalam lima masa jabatan terakhir. Singapura sendiri sejauh ini sudah memiliki empat Presiden etnis Tionghoa dan satu etnis India. Sementara terakhir kali pemimpin Melayu di Singapura adalah Presiden pertama mereka, Yusof Ishak.

 

Anak Penjual Nasi Padang Yang Sering Bolos Sekolah

 

Tak butuh waktu lama bagi publik dunia untuk segera penasaran akan sosok Halimah. Apalagi ternyata dibalik karier gemilangnya sebagai politisi bergengsi, Halimah yang memiliki ayah seorang muslim India dan ibu keturunan Melayu itu mengalami hidup susah di masa mudanya. Halimah harus kehilangan sang ayah yang bekerja sebagai satpam ketika dia masih berusia delapan tahun.

 

Demi mencukupi kehidupan keluarganya, ibu Halimah harus berjualan nasi padang menggunakan gerobak keliling di daerah Shenton Way. Usai memperoleh lahan kios untuk berdagang, Halimah yang di tahun 60-an itu masih bersekolah di Singapore Chinese Girls’ School pun sering membantu sang ibu berjualan seperti mencuci piring, membersihkan meja dan menyajikan pelanggan.

 

Karena kesibukannya membantu sang ibu, Halimah yang duduk di bangku kelas 2 SMP nyaris hendak dikeluarkan dari sekolah lantaran terlalu sering membolos. Dalam wawancaranya dengan Channel News Asia, Halimah mengaku meskipun alasannya bolos itu demi membantu ibunya, ancaman hampir dikeluarkan dari sekolah adalah momen terburuk dalam kehidupannya.

 

Kehidupan yang serba sulit itulah yang mendorong Halimah untuk berjuang mengubah nasib keluarganya. Dia lalu tekun menyelesaikan pendidikan hukumnya hingga masuk ke dunia politik pada tahun 2001 atas saran Perdana Menteri Goh Chok Tong. Halimah menyebut bahwa pengalaman sulit dan perjuangan ibunya saat dia muda membuatnya lebih memahami kehidupan kaum miskin Singapura.

 

Leave a Reply