Papua Gunakan Sistem Noken Dalam Pemilu

Penyelenggaraan pemilihan umum di Indonesia hanya tinggal menghitung hari saja. Penyelenggaraan tersebut tepatnya akan dilakukan padan 17 April 2019 mendatang. Masyarakat selalu mempunyai cara unik menyambut agenda besar pemilihan presiden untuk lima tahun mendatang. Seperti misalnya penggunaan pakaian adat untuk memilih, diadakannya pertunjukan di lokasi pemilihan bandar judi togel dan sebagainya. Tak urung pula dengan Papua, daerah ini mempunyai cara unik untuk melakukan pemungutan suara yaitu dengan menggunakan sistem noken.

Mekanisme Sistem Noken

Pemungutan suara dengan menggunakan sistem noken di Papua sudah dilakukan sejak lama. Sistem noken merupakan sistem yang digunakan dalam pemilu di Provinsi Papua dengan cara menggunakan noken sebagai pengganti kotak suara. Noken sendiri merupakan tas sehari-hari masyarakat papua yang terbuat dari benang yang berasal dari akar pepohonan.

Sistem ini membedakan pemilihan umum yang ada di Provinsi Papua dengan wilayah lainnya, karena merupakan bagian penting dari pemilihan suara itu sendiri.Penggunaan sistem ini khususnya ditujukan di wilayah masyarakat Papua yang berada di pegunungan. Hal tersebut juga telah ditetapkan dalam petunjuk teknis KPU Papua Nomor 1 Tahun 2013 yang berisi pernyataan bahwa noken digunakan sebagai  pengganti kotak suara.

Dalam teknis untuk pemilihannya, tidak terdapat banyak perbedaan dengan masyarakat di daerah lainnya yaitu dengan pemilih yang mendapatkan kartu akan datang ke lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Hal yang membedakannya hanyalah tidak adanya kotak suara, akan tetapi di depan bilik pemilihan disiapkan sebuah noken kosong. Jumlah noken yang disediakan sama dengan jumlah pasangan calon yang ada.

Kemudian setelah dipastikan seluruh penduduk kampong telah hadir, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) akan mengumumkan kepada penduduk yang ingin memilih kandidat calon untuk baris di depan noken calon yang disediakan. Setelah pemilih duduk di depan noken, KPPS akan menghitung pemilih yang berbaris di depan noken tersebut.

Misalkan saja terdapat sepuluh orang yang duduk berbaris di noken tersebut, maka hasil perolehan untuk kandidat berarti sepuluh suara.Penghitungan tersebut dilakukan hingga seluruh kandidat yang ada sudah berhasil dihitung perolehan suaranya untuk kemudian disahkan dengan pembuatan berita acara dan sertifikasi dari KPPS.

Sistem noken dianggap sah jika noken yang digunakan sebagai media untuk pemungutan suara digantungkan di kayu yang berada di dalam area TPS.Pemilih yang mempunyai hak suara harus datang ke TPS dan tidak boleh diwakilkan dengan yang lainnya. Kemudian setelah pemungutan suara, hasil yang ada harus dibuka dan dihitung langsung di tempat surat suara tersebut dicoblos. Selain itu, sistem ini juga dianggap sebagai kearifan lokal Papua yang telah disahkan melalui putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 47/81/PHPU.A/VII/2009 sebagai budaya asli Papua.

Digunakan di 12 Kabupaten di Papua 

Pada pemilihan umum tahun 2019 ini, terdapat 12 kabupaten yang menggunakan sistem noken dalam pemilihan suaranya.Hal tersebut diungkapkan oleh TheodorusKossay yang merupakan Ketua KPU Papua. Keseluruhan kabupaten yang menggunakan sistem noken berada di kawasan Pegunungan Tengah yaitu Kabupaten Jayawijaya, Lanna Jaya, Tolikara, Nduga, Mamberano Tengah, Puncak, Puncak Jaya, Paniai, Deiyai, Dogiai, Yahukimo dan Intan Jaya. Dari wilayah Pegunungan Tengah ini, hanya terdapat dua kabupaten yang tidak menggunakan sistem noken yaitu Yalimo dan Pegunungan Bintang.

Selain itu Kossay juga menambahkan jika 15 kabupaten dan kota lainnya yang terdapat dalam Provinsi Papua tidak menggunakan sistem noken. Kemudian penggunaan sistem noken juga telah diatur dalam peraturan KPU (PKPU).Ia juga mengemukakan jika saat ini kesiapan Pemilu sudah terdapat di 29 KPU kabupaten dan kota dengan jumlah pemilih yang tercatat sebanyak 5.541.017 orang.

Leave a Reply