Usai Yakin Stok Beras Aman, Sekarang Bulog Takut Gagal Panen Karena Musim Hujan

Di akhir bulan Januari 2020 lalu, Perum Bulog memastikan bahwa gudang beras di daerah rawan bencana aman. Salah satu yang diantisipasi adalah musibah banjir. “Kami sudah memperbaiki gudang yang diprediksi ada bencana banjir. Artinya, di ketinggian yang tak bisa dijangkay dengan air kecuali gempa atau ambruk gudang,” ungkap Budi Waseso, Direktur Utama (Dirut) Bulog di Kementerian BUMN, bulan Januari 2020 lalu.

Sempat Tak Khawatir dan Gudang Aman

Pria yang mana akrab disapa dengan Buwas ini mengungkapkan bahwa control stok beras untuk kebutuhan bencana dilakukan dengan rutin. Untuk mengantisipasi bencana, Perum pun menyiapkan beras, paling tidak 200 ton per provinsinya dan 100 ton per kabupatennya.

“Saya sampaikan pada prinsipnya Bulog itu siap semua, gudang semua selalu kami control,” katanya.

Di kesempatan yang sama juga ia mengatakan bahwa stok beras nasional pada saat itu berada di kisaran 2,1 juta ton. Koordinasi lintas kementerian juga sudah dilakukan. Dalam hal ini Bulog melakukan koordinasi dengan Kementrian Sosial.

Lebih lanjut lagi, Buwas pun menyatakan bahwa ia siap untuk menggelar operasi pasar dan mengerahkan pihaknya untuk melakukan operasi pasar tersebut. Akan tetapi kegiatan tersebut Cuma akan dilakukanjika diperlukan saja. “Kalau harganya tinggi, kami baru operasi pasar, gagal panen kami operasi pasar supaya stabil,” ungkap mantan totobet Kepala BNN (Badan Narkotika Nasional) itu.

Musim Hujan, Bulog Khawatir Gagal Panen

Namun hari ini, kepercayaan diri Bulog seolah luntur. Perum Bulog yang sebelumnya percaya diri bahwa stok beras aman bahkan sudah mengantisipasi musibah banjir yang ditakutkan dan juga gagal panen yang dikhawatirkan, sekarang menjadi khawatir.

Mereka menyiratkan kekhawatirannya pada potensi gagal panen, karena musim penghujan yang datang dengan cuaca yang ekstrem. Buwas mengatakan walaupun hasil panen tengah berlimpah, akan tetapi saat ini cuaca kurang kondusif.

“Dengan cuaca yang seperti ini, ada kemungkinan gagal panen di beberapa wilayah,” katanya di Gudang Bulog, Jakarta Utara, tepatnya hari Kamis (27/2).

Buwas sendiri tak mengungkapkan daerah mana saja yang memiliki potensi gagal panen. Akan tetapi ia mengaku sudah mengantisipasi kejadian itu dan membahas penanggulangannya dengan Kementerian Pertanian. “Itu kan kami kerja sama dengan Menteri Pertanian. Ini pun sudah kami antisipasi,” katanya lagi,

Buwas juga memastikan bahwa jumlah padi hasil panen petani yang tak terserap pasar akan diserap Bulog dan akan dijadikan sebagai stok negara. Sekarang ini, stok beras sudah mencapai 1.7 juta ton.”Pada prinsipnya, Bulog bakal mengambil jumlah berapa pun yang bakal diproduksi petani namun tak terserap pasar. Jadi, nggak ada masalah,” katanya lagi.

Sebelumnya, Bulog mengusulkan adanya kenaikan Harga Pembelian Beras (HPB) yang tadinya dari Rp. 9.583 per kg menjadi Rp. 10.742 per kg pada tahun 2020. Usulan kenaikan harga itu diusulkan mengingat harga lama jauh sekali di bawah harga pasar.

HPB meru[akan harga pembelian beras oleh pemerintah pada Perum Bulog di atas alat angkut di depan pintu gudang Perum Bulog. Buwas mengatakan, lagipula, ketetapan harga tersebut belum dikaji ulang selama 3 tahun. Usualan tersebut disampaikan Buwas dalam rapat dengar pendapat atau RDP bersama dengan Komisi IV DPR.

Namun Buwas masih belum mau memutuskan apa-apa terkait dengan kenaikan HPB atau apapun karena belum ada diskusi dan juga urgensi yang mendadak yang harus dilakukan sekarang.

Leave a Reply